Archive | June 15, 2017

Sebuah coretan di bulan Juni, 2017

Agak lama juga tidak menulis sebarang contengan di maya ini. Mengambil iktibar dan sedikit peringatan kepada diri sendiri, dengan bidang tugas yang gua jalankan sekarang ini adalah lebih baik kurangkan bahan tulisan meskipun penulisan di alam maya. Kerna ia mampu dijadikan bahan bukti. Bukti bertulis.

Apa yang gua mahu ingatkan jua di sini, bukanlah suatu ugutan. Lebih kepada mengambil sikap berjaga-jaga. Apa jua yang ditulis, ada yang membaca. Ada juga yang akan jadikan ia sebagai maklumat tambahan yang kemudiannya mungkin akan ‘makan tuan’.

Percayalah, ada sahaja manusia yang memerhati tiap gerak geri dan langkah kita dalam tak sedar, setiap pertuturan, setiap ekspresi dan gerak tubuh. Lebih buruk lagi ditambah pula dengan ‘assumption’ sendiri dan seterusnya membuat spekulasi.

Gua ini mudah alpa. Sering juga beranggapan semua manusia itu baik hati budinya. Orang sekarang bilang, husnuzon. Malah, kawan-kawan yang gua ada, yang gua boleh bilang (tak abis pun jari tangan nan sepuluh puntung ini) semuanya berani gua cakap suci hati dalam bersahabat. Tiada agenda tersirat, tiada motif tertentu.

Tapi itulah. Terlalu naif dalam menilai manusia adalah satu kelemahan gua. Apa yang mampu gua mohon dari Allah hanyalah menjauhkan diri ini dari manusia-manusia yang punya niat tak baik mahupun yang punya hasad dengki. Perit apabila dituduh macam-macam di belakang, ditikam, dan disebarkan cerita yang tidak tepat malahan diburuk-burukkan pula.

Ahh.. Ayuh kita berbicara tentang hal yang lebih menggumbirakan.

Salam Ramadan.

Lekas benar rasanya, sudahpun berada di 10 malam terakhir. Masa berlalu pantas. Rasa tak terkejar. Atau inikah yang dikatakan faktor usia? Pulang dari kerja sudah tidak mampu berbuat apa-apa melainkan baring atau ketiduran di pembaringan. Tiada langsung aktiviti berfaedah. Hari-hari yang dilalui dirasakan begitu sia-sia. Apa sumbangan gua kepada dunia selama hidupnya? Melainkan tiap hujung bulan dapat gaji dan pusingan hidup itu tetap sama sahaja.

Ahh.. Masih lagi dalam topik yang kurang menggumbirakan.

Baik. Gua coba lagi.

Tahun ini gua coba untuk membaca semula. Buku yang kian menimbun di Room of Requirement perlu ditelek. Bukan hanya ditambah setiap kali ada jualan BBW. Percaya atau tidak, BBW Box Sales baru-baru ini berjaya jua akhirnya gua tidak menjejakkan kaki ke sana. Betapa sukar untuk memejamkan sebelah mata dan menahan diri, tahu??!!

Setakat ini, baru berjaya habiskan 3 buah buku. Hajatnya satu buku tiap bulan. Tapi nampak gayanya pembacaan terlalu perlahan. Ada tidak ada, gua baca tatkala menantikan pesawat sewaktu di bandara. Ataupun membaca di dalam pesawat.

Ada satu keratan tulisan yang gua ingin kongsikan. Yang gua kira begitu tepat dan kena. Tidak tahulah sama ada diambil dari pemerhatian penulis ataupun dari pengalaman beliau sendiri. Panjang sedikit, ya. Bunyinya begini;

“Memang berbeda sekali perasaan jiwa laki-laki dengan perempuan, sebagaimana berlainnya kejadian tubuh kasarnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mencukupkan kehidupan dengan percintaan. Tetapi filsafat kedua belah pihak dalam perkara cinta, amat berbeda, laksana perbedaan siang dengan malam, tegasnya perbedaan Adam dengan Hawa.

Laki-laki bilamana telah menentukan cintanya untuk seorang perempuan, maka perempuan itu mesti jadi haknya seorang, tak boleh orang lain hendak ikut berkongsi dengan dia. Jika perempuan itu cantik, maka kecantikannya biarlah diketahui olehnya seorang. Jika suara perempuan itu nyaring, biarlah dia seorang yang mendengarya. Sebab itu, kalau ada orang lain yang hendak memuji kecintaannya, atau mengatakan suaranya nyaring, atau menyanjung budi baiknya, semua itu tidaklah diterima oleh laki-laki yang mencintainya tadi. Bertambah banyak orang memuji kecintaannya, bertambah timbullah cemburu dalam hatinya, sebab perempuan itu untuk dia, buat dia, tak boleh buat orang lain.

Tetapi takdirnya ada orang yang mencela, mengatakan perempuan yang dicintainya itu buruk tidak serupa perempuan lain, kalau ada orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya, sebab dia telah memberikan cinta hati kepada seorang perempuan, yang kecantikannya tidak patut mendapat penghargaan setinggi itu, kalau ada orang mencacat, merendahkan, maka semuanya itu bagi laki-laki yang bercinta tadi, akan menambah patri cintanya dan menambah harga perempuan itu di matanya.

Tetapi cinta perempuan kepada laki-laki sebaliknya dari itu. Laki-laki pada pemandangan perempuan adalah laksana dukuh emas yang tergelung dilehernya, atau gelang bertatah berlian yang melilit tangannya, perhiasan yang akan dibanggakannya kepada kawan sesama gedangnya. Seburuk-buruk kecintaannya akan lupa dia keburukan itu, kalau laki-laki lain atau perempuan lain memujinya dekat dia, mengatakan dia seorang laki-laki yang tangkas berbudi, ternama, termasyhur dan lain-lain sebagainya.

Maka nyatalah bahwa cinta perempuan kepada laki-laki lebih banyak berdasarkan ketakburan daripada kenafsuan. Pengakuan orang lain atas kemuliaan kecantikannya atau tunangannya atau suaminya, bagi seorang perempuan adalah sebagai satu kemenangan di dalam perjuangan.”

Penulisnya? -HAMKA.

Ada benarnya, bukan?