Lorong-lorong yang menghidupkan hidup

Lorong itu gua datangi lagi. Kadang bukan mencari apa-apapun, sengaja singgah. Tapi tetap trolley basket gua tarik sekali. Nanti kalau ada yang berkenan di hati, terus masukkan saja ke dalamnya.

Sayurnya balik-balik yang itu jua. Sawi, kangkung, bayam hijau, kadang bayam merah ada sekali, terung panjang, timun, tomato, cili. Buahnya pun tak banyak beda. Oren, nenas, epal. Yang itu-itu juga.

Ayamnya boleh tahan banyak. Udang, ikan, sotong, dan ketam, asal ada. Daging pula banyak yang beku, kalau ada pun Australian Beef, takpun Indian Buffalo.

Bolehlah, takat nak tambahkan lauk dan stok dalam peti ais.

Ini terapi gua.

Terapi untuk jiwa yang kadang-kadang lara. Tau yang perlu diadukan sedihnya hanya kepada Yang Esa. Tapi usahlah kita berdebat soal yang itu pula, antara hubungan gua dan Dia tak perlu gua jaja.

Baik. Ditukarkan pernyataannya. Ini terapi gua yang lainnya. Alternatif pengubat jiwa.

Melihat deretan dan susunan hijau daun sayuran umpama memberikan kesegaran. Bagaikan memberikan suatu semangat. Daun-daun herba; sage, rosemary, thyme, italian parsley, dill, dan sebagainya membuatkan otak gua berfikir-fikir..makanan jenis apakah yang sesuai dimasak bersama-sama?

Namun yang sering gua gapai adalah daun kesum itu. Kerna daun kesum adalah penting untuk bikin asam pedas. Gua suka asam pedas.

Gua toleh dan mengarahkan pandangan ke dalam trolley basket. Entah bila masanya isinya sudah hampir penuh. Segala sayur daun yang tadi nampak begitu segar sudah menjadi sebahagian daripada pembelian.

“Bila nak makan?”
“Masaknya jarang-jarang.”
“Biar ada. Senang.”

Tapi selalunya, separuh daripada tiap sayuran itu bakal layu dan rosak dalam peti.

Sunyi.

Dalam hingar bingar kota, terasa kesunyian yang terlampau. Berapa lama harus dibawa jiwa yang tak terisi? Jiwa ini sarat menanggung beban yang tak terucapkan. Jeritan kesakitan tidak lagi mampu diteriakkan. Apa lagi yang dicari?

Usai membuat pembayaran di kaunter, terus gua menuju pulang. Dalam hati sudah tersedia mengetahui..

“Kita akan ketemu lagi, lorong-lorong yang menghidupkan hidup sepi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s