Mati itu pasti..

Gua di Phuket International Airport untuk pulang ke Kuala Lumpur saat Mr.K khabarkan yang Paul Walker meninggal kerana kecelakaan. Bagaikan mengerti riak wajah gua yang bagaikan tidak mempercayainya, lantas diunjukkan telefon pintar di tangan dengan berita itu.

Porsche GT yang dipandu menghentam tiang telefon dan kemudian melanggar pokok. Rentung. Dua nyawa tergadai.

Di laman Facebook dan Instagram banyak ucapan takziah. Berita kemalangan yang mengejutkan, yang menyentap tiap perasaan. Perginya pada usia 40 tahun, masih dikira terlalu muda. Bagaikan tidak percaya pengakhiran hidupnya sudah tiba.

Lalu gua tersadar. Subhanallah.

1. Paul Walker seorang aktor. Seorang selebriti terkenal. Matinya ditangisi dan diratapi bukan sahaja keluarga dan teman tapi tiap peminat seluruh donia. Pemergiannya begitu dirasai. Tanggal kematian 1 Disember 2013. Namun jangan dilupakan bahawa seluruh ceruk donia yang lainnya, juga ada kematian. Tapi mungkin kita tak tahu, sebab kematian yang lain itu bukanlah kematian seorang selebriti. Kematiannya tidaklah diratapi seantero donia.

2. Paul Walker sudah kita tahu matinya bagaimana. Yang menjadi persoalan sekarang bagaimana dengan gua? Selama mana nyawa yang dipinjamkan-Nya? Bagaimana nanti cara dicabut nyawa?

Gua bukanlah orang yang biasa menghadapi berita kematian. Alhamdulillah, ahli klorga terdekat masih dipanjangkan nyawa oleh-Nya, begitu juga teman-teman rapat. Entahlah, tatau nak telah dan duga bagaimana nanti tatkala berita kematian menjengah.

Mati itu pasti.

Bersediakan gua saat menerima berita sebegitu? Yakinkah gua yang tua akan pergi dahulu? Mati tak pernah kenal usia dan waktu.

Berapa ramai akan mendoakan gua andai gua pergi nanti? Berapa ramai yang akan sedekahkah Al-Fatihah dan membacakan Yassin? Berapa ramai yang akan memberi penghormatan saat gua disembahyangkan buat kali terakhir?

Itulah yang terdetik di fikiran gua tiap berita kematian selebriti-selebriti. Sebabnya selebriti ini biasa dilihat di layar perak dan di tv, yang biasa dilihat, yang biasa ditatap, yang kerap dipuja dan bagaikan idola lalu impaknya memang terasa. Coba kalau yang meninggal itu dari kalangan rakyat biasa? Ahhh..coma satu lagi kematian, bukan?

Dan kemudian hidup kembali diteruskan. Masih lagi menjalani rutin-rutin dan kebiasaan. Kesedaran yang terdetik di benak dan hati turut berlalu pergi. Mungkin kesedaran akan kembali tika menerima satu lagi kematian selebriti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s